Terjawab sudah semua pertanyaan anak ku Bobi umur 9 tahun pelajar kelas 4 SD tentang seperti apa sekolah aku dulu. Bobi sering sekali menanyakan bagaimana kondisi ruang kelas, lantainya seperti apa, ruangannnya sebesar apa, pakai a/c atau tidak, bangku, teman-temannya seperti apa dan sebagainya.
Hari Sabtu tanggal 27 September 2008 kemarin alhamdullilah kami bertiga aku Bobi dan Nisa sepupunya sudah berkesempatan menonton film Laskar Pelangi di hari kedua penayangan film ini. Meski kami sudah berusaha untuk menonton di hari pertama tapi kami tidak kebagian tiket dan baru setelah antri 1 jam di depan loket 21 Bintaro baru kami bisa nonton di pemutaran kedua jam 15.00.
Meski aku sudah mendengar mengenai Laskar Pelangi cukup lama tapi tidak begitu tertarik untuk membaca bukunya. Aku tertarik menonton film ini setelah sempat menonton diskusi mengenai Laskar Pelangi di Kick Andy Metro TV dan langsung “kepincut” untuk menonton.
Cerita film ini sungguh sangat kuat mesti dibuat dalam setting yang sederhana dengan latar belakang sebuah sekolah di sebuah kampung kecil Gentong di daerah Belitung atau Belitong sebutannya di dalam film ini. Dalam salah satu scene yang aku sempat menangkap ada tulisan 1974 jadi aku langsung manyambung bahwa ini adalah angkatan “gue” nih.
Film menceritakan perjuangan sebuah SD Muhammadiyah satu-satunya sekolah Islam di Blitong saat itu dalam kondisi yang serba memprihatinkan. Bangunan sekolahnya terbuat dari dinding papan asalan yang sudah miring, lantainya tanah, atapnya compang-camping dan bocor jika hujan turun dan ruang yang tidak kena air tempat kambing-kambing berteduh. Muridnya hanya 10 orang yang terdiri dari anak-anak nelayan miskin. Gurunya adalah guru biasa namun berdedikasi sangat luar biasa untuk kemajuan muridnya. Setiap hari adalah perjuangan bagi semua mereka. Guru berjuang mencari murid agar jumlah 10 orang tidak berkurang supaya sekolahnya tidak ditutup oleh pejabat PDK. Murid berjuang untuk memilih bersekolah atau ke laut dan ke tambang timah mengikuti ajakan orang tua mencari nafkah. Pakaian mereka sungguh sangat sederhana, baju compang-camping (jangan berfikir ada seragamnya), tidak pakai sandal wajah kumal dan dekil. Bagi aku itulah benar-benar adalah potret diri ku sendiri, meski aku menikmati proses pendidikan berjarak sekitar 1000 km dari Blitong, tapi kondisinya tak jauh berbeda.
Pada 15 menit pertama anda mungkin belum melihat kekuatan film ini, karena penonton baru diperkenalkan dengan latar belakang cerita. Selanjutnya cerita berkembang dan di setiap episodenya selalu ada segmen-segmen yang membuat anda tertawa geli atau tertawa getir. Di segmen yang lain anda dibuat menangis tersedu-sedu melihat perjuangan “civitas akademika’ guru dan murid di dalam memperjuangkan keberadaan sekolah ini. Karatker murid-murid yang begitu kuat tapi lugu menjadi daya tarik dari cerita itu. Sampai saat ini aku masih merasakan air mata ku menggenang ketika membayangkan bagaimana nasib si Lintang anak yang cerdanya luar biasa itu terpaksa harus berhenti sekolah karena ayahnya mati di telan laut sementera ibunya sudah lebih dahulu meninggal. Selanjutnya hanya Lintang yang akan mengurus ketiga orang adiknya…. Aduh…
Film ini di buat berdasarkan novel terlaris yang dikarang oleh Andreas Hirata yang merupakan potret dirinya sendiri. Yang membuat film menjadi hebat adalah para team yang berada di balik layarnya. Mereka adalah orang-orang film kawakan dan berpengalaman. Dari sekian nama besar di balik film ini aku kenal baik dengan penulis skenarionya Salman Aristo. Dari tangannya jualah sekenario film Ayat-Ayat Cinta film tersukses di negeri ini di buat dan beberapa film layar lebar lainnya. Aris… another great job man!
Selamat menonton.
Jurangmangu 28 September 2008
Taufik Arifin
Sabtu, 18 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar