Jumat, 07 November 2008

Krisis : Klaim asuransi alat berat naik




Sejak krisis ekonomi global mulai merebak pertengahan bulan September 2008 lalu penjualan alat berat Indonesia langsung terpengaruh. Kalau sebelum krisis permintaan alat berat sangat tinggi sehingga orang harus antri berbulan-bulan bahkan sampai 1 tahun untuk bisa mendapatkan alat berat tapi 1 bulan kemudian kondisi jadi berbalik 180 derajat, stock alat berat menumpuk tapi penjualan sangat seret, walaupun ada peminat tapi tidak ada pembiayaan karena perusahaan leasing dan bank masih belum berani memberikan pembiayaan alat berat. Perusahaan leasing masih dalam kondisi “wait and see” sehingga tidak berani membuat komitmen kredit karena belum adanya kepastian tingkat bunga dan nilai tukar rupiah-dollar yang masih labil.
Beberapa hari ini kami perhatikan sudah mulai ada perkembangan positif, beberapa customer yang sangat memerlukan alat berat terpaksa membeli dengan tunai atau dengan meminta keringan lain-lain, ini suatu pertanda baik untuk industri alat berat. Semoga semakin hari semakin membaik.

Bagi industri asuransi kondisi ini memberikan pengaruh langsung karena dengan turunnya penjualan alat berat maka turun pulalah penerimaan premi dari asuransi alat berat. Bagi perusahaan asuransi penurunan ini sangat mengkhawatirkan dan dilematis karena melambatnya penerimaan premi berarti menurunnya kemampuan perusahaan asuransi menghimpun premi untuk pembayaran klaim. Sementara di lain sisi jumlah klaim asuransi terus bertambah bahkan ada kecenderungan meningkat. Selama ini yang terjadi adalah adanya kejar-kejaran antara penerima premi dengan jumlah klaim yang dibayar. Selama 3 tahun terakhir ini penerimaan masih lebih tinggi dari pembayaran klaim. Tapi sekarang kondisinya mungkin akan berbeda, penerimaan premi turun sementara klaim terus melaju.


Selama 2 minggu yang lalu kami menerima 2 laporan klaim baru, pertama sebuah excavator terperangkap di dalam lumpur dan satu lagi excavator dicuri spare partsnya di lokasi tambang, nilai kerugian kedua klaim ini sekitar 200 juta. Sementara itu kami juga sedang membantu seorang teman menyelesaikan klaim asuransi alat berat sebuah excavator akibat kecurian yang nilai kerugian di atas 750 juta atau diatas nlai baru excavator kelas 20 ton. Menurut rekan ini, pada saat yang samaa ada sekitar 6 unit alat berat lain yang mengalami kecelakaan yang sama.

Moral dan Morale Hazard Meningkat
Beberapa perusahaan sudah mulai mengurangi kegiatan, karyawan sudah mulai dikurangi dan kontrak kerja dengan supplier dan sub kontraktor banyak yang tidak diteruskan lagi. Akibatnya PHK menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan, banyak operator dan teknisi yang kehilangan pekerjaan dan penduduk sekitar proyek kehilangan pendapatan.
Kondisi ini menyebabkan meningkatnya ‘moral dan morale hazards” berupa menurunnya kepedulian atas keselamatan alat berat karena tidak lagi dijalankan dan dirawat karena operator dan penjaga tidak lagi berada dekat dengan unit serta semakin banyak "tenaga ahli alat berat” yang nganggur dan tergoda untuk melakukan tindakan kejahatan terhadap alat berat.
Jadi, dari sudut pandang asuransi kondisi krisis seperti ini tidak menguntungkan dimana di satu pihak penerimaan premi menurun tapi disatu pihak tingkat pengeluaran karena meningkatnya klaim semakin meningkat. Siapapun tentunya tidak ingin mengalami kerugian. Oleh karena itu boleh jadi beberapa perusahaan akan mengurangi potfolionya pada asuransi alat berat ataupun kalau mereka masih mau untuk meneruskan mereka akan meminta kenaikkan tariff premi asuransi alat berat yang saat ini memang relatif cukup rendah dibandingkan dengan tariff asuransi sejenis.
taufikarifin@yahoo.com

Sabtu, 18 Oktober 2008

Pencurian Alat Berat Marak di Kalimantan

Dalam bulan Juli 2008 ini kami mendapat informasi bahwa telah terjadi 3 kali pencurian dan pembongkaran atas alat berat di berbagai lokasi di Kalimantan. Lokasi pertama di Kalimantan Barat, lokasi ke dua di Kalimantan Timur dan lokasi ke tiga di Kalimantan Selatan. Total unit yang mengalami pencurian 10 unit dengan nilai kerugian sekitar Rp 1 milyar.
Sengetahuan kami selama hampir 20 tahun kami menggeluti asuransi alat berat, perstiwa pencurian dan pembongkaran alat berat ini merupakan hal baru di wilayah Kalimantan. Tidak pernah kami mendapat laporan klaim adanya pencurian secara terencana seperti sekarang ini. Kalaupun pernah terjadi yang ada adalah pengerusakan alat berat selama masa kerusuhan massal yang terjadi 10 tahun yang lalu.
Dari laporan yang kami terima semua pencurian terjadi adalah pembongkaran terhadap control panel yang terdiri dari computer oparasi alat berat. Kejadian ini sangat mengkhawatirkan karena kalau terus dibiarkan akan menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi para pemilik alat berat, operator, perusahaan pembiayaan/leasing dan juga bagi perusahaan asuransi. Dan dalam jangka panjang akan menurunkan tingkat produktifitas ekonomi di wilayah ini. Karena pengusaha akan mengalami kesulitan untuk mengoperasikan alat serta perusahaan pembiayaan sulit untuk membiayai alat berat karena pihak asuransi pasti akan mengurangi “exposure” resiko pencurian di wilayah ini.


Model “musibah” ini selama ini hanya terjadi di wilayah Sumatera terutama di daerah Riau dan masih berlangsung hingga saat ini. Sebagai akibatnya banyak perusahaan asuransi yang tidak bersedia memberikan jaminan asuransi pencurian dan pembongkaran atas alat berat yang beroperasi di wilayah Riau. Hal ini mempengaruhi keputusan perusahaan leasing/bank untuk memberikan pembiayaan atas unit-unit alat berat yang beroperasi di wilayah ini dan akibatnya menyulitkan bagi pembeli dan penjual unit di wilayah itu.
Wilayah Kalimantan sekarang ini memang sedang mengalami perkembangan ekonomi yang sangat pesat sejalan dengan naiknya harga komoditi utama wilayah ini seperti batu bara, pasir besi, nikel, perkebunan sawit, hasil hutan dan lain-lain. Hampir kesemuanya mengandalkan produksinya dari penggunaan alat berat. Diperkirakan hampir setengah dari penjualan alat berat baru Indonesia beroperasi di Kalimantan.
Secara teori Risk Management ini adalah resiko yang wajar karena jika di dalam kondisi ekonomi membaik maka resiko “moral hazard” atau bahaya yang berasal dari perilaku manusia akan meningkat.
Bahaya ini harus segera dicegah dan dibasmi sedini mungkin sebelum dia menjadi berurat dan berakar dan merusak kinerja ekonomi di Kalimantan. Semua pihak yang terkait perlu mengambil langkah-langkah pencegahan. Kalau sekarang mereka mulai dengan mengambil panel control, selanjutnya akan meningkat ke bagian lain yang mudah diambil seperti motor dan lain-lain. Dan lebih berat lagi mereka juga akan membongkar bagian lain seperti mesin, hydraulic boon seperti yang terjadi di Riau.

Pencurian spare parts ini adalah cara pencuri untuk menciptakan permintaan “demand’ dimana pemilik unit yang kehilangan akan membeli spare part penggantinya dan “sipencuri” akan menawarkannya kepada pemillik unit. Jadi bisa-bisa yang terjadi adalah barang yang hilang akan dibeli kembali oleh pemilik awalnya.
Kasus ini sama dengan model pencurian kaca spion mobil yang marak terjadi di Jakarta dan sekitarnya, kaca yang dicuri karena ukurannya khusus, kalau dibeli di bengkel resmi harganya sangat mahal akhirnya banyak orang membeli di pasar spare part bekas dan kemungkinan besar itu adalah barang bekas miliknya sendiri.

Agar pencurian alat berat di Kalimantan ini dapat segera berhenti, berikut ini kami ingin menyampaikan beberapa tips buat Anda;

Tingkatkan Penjagaan Unit
Untuk menghindari terjadinya pencurian maka perlu ada usaha-usaha untuk meningkatkan penjagaan terhadap unit-unit alat berat. Kalau memungkinkan unit di kumpulkan di satu tempat sehingga mudah untuk mengawasinya.

Lindungi Bagian-bagian yang mudah dilepas
Kalau dilihat dari gejala yang terjadi saat ini pencuri hanya mengambil bagian-bagian yang mudah diambil seperti computer, motor, track dan lain-lain. Kalau memungkinkan bagian-bagian ini di kunci mati dengan las dengan syarat tentunya tidak merusak parts dan mempengaruhi kinerja alat

Tandai Spare Parts
Mungkin bagi Anda yang tinggal di Jakarta atau pernah ke Jakarta sering melihat bahwa banyak kaca spion mobil terutama mobil mewah di digrafir dengan menuliskan nomor plat mobil di kedua belah kaca spionnya. Ini adalah startegi yang dilakukan agar maling “ogah” mencuri kaca tersebut karena akan ketahuan barang pada saat dimenjual ke sipenadah. Hal serupa juga dapat dilakukan pada spare part alat berat, karena dengan demikian pencuri akan ketahuan karena dia akan menjual barang curiannya kepada pembeli dari kalangan alat berat juga yang bisa mengetahui sipemilik awal dari spare parts ini.

Jaga Hubungan Baik dengan Karyawan dan Lingkungan
Ada kemungkinan pencurian dilakukan oleh orang dalam sendiri operator ataupun karyawan, mereka bekerjasama dengan orang luar. Berhati-hatilah pada saat merekrut karyawan dan operator, interview dan cari informasi lebih lengkap mengenai mereka sehingga dapat diketahui latar belakangnya. Memang di saat permintaan operator saat ini sangat tinggi sehingga operator menjadi rebutan. Di samping itu perlu juga menjaga hubungan baik dengan setiap karyawan sehingga mereka tidak kecewa dan melakukan hal-hal yang merugikan perusahaan.
Di samping itu perusahaan perlu juga menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar agar mereka bisa membantu menjaga keamanan operasi perusahaan.

Jangan Membeli Spare Parts Bekas
Tujuan pencurian adalah untuk menjual alat yang dicuri, itu pasti. Sedangkan pembelinya adalah para pemilik alat berat yang dicuri. Kalau pemilik membeli alat bekas dari pencurian maka sama saja dengan menghidupkan bisnis pencuri karena dengan demikian pencuri akan mencuri lagi barang lain dan kemudian menjualnya kembali ke pasar yang sama.
Salah satu cara untuk menekan pencurian adalah dengan membeli spare parts baru baik yang dijual oleh distributor resmi ataupun tidak yang penting adalah barang yang dibeli bukan barang bekas hasil curian. Mungkin ini akan membebani pengusaha karena spare parts baru harganya pasti lebih mahal dari spare parts bekas, tapi demi kepentingan bersama dan nasional sebaiknya relakan untuk membeli spare part baru sehingga bisnis pencuri tidak berjalan.

Meminta Bantuan Kepolisian
Kalau dibiarkan terus maka fenomena pencurian ini akan melumpuhkan ekonomi yang sedang berkembang di Kalimantan seperti sekarang ini. Perlu ada bantuan dari pihak pemerintah untuk menumpas secara cepat dan tegas sebelum menjadi “benalu” seperti yang sekarang terjadi di daerah Riau. Kepada asosiasi-asosiasi perusahaan dan lembaga-lambaga lain perlu bersatu menghimbau pimpinan kepolisian untuk bertindak.

Asuransi
Pada dasarnya asuransi dapat mengganti kerugian akibat pencurian dan perampokkan alat berat. Namun jika potensi kerugiannya cenderung menjadi lebih besar mungkin saja perusahaan asuransi tidak mau menjamin resiko ini seperti halnya yang diberlakukan oleh sebagian besar perusahaan asuransi untuk alat berat yang beroperasi di Riau. Kalau pencurian ini dapat segera ditumpas mungkin perusahaan asuransi masih mau memberikan jaminan ini.

Semoga tulisan ini dapat menjadi perhatian kita semua dan berharap fenomena yang tidak baik ini dapat segera berakhir.

Jakarta 21 Juli 2008
Mhd. Taufik Arifin SE, APAI, CIIB
Risk Management and Insurance Consultant

Laskar Pelangi, “itulah papamu dulu nak…..”

Terjawab sudah semua pertanyaan anak ku Bobi umur 9 tahun pelajar kelas 4 SD tentang seperti apa sekolah aku dulu. Bobi sering sekali menanyakan bagaimana kondisi ruang kelas, lantainya seperti apa, ruangannnya sebesar apa, pakai a/c atau tidak, bangku, teman-temannya seperti apa dan sebagainya.

Hari Sabtu tanggal 27 September 2008 kemarin alhamdullilah kami bertiga aku Bobi dan Nisa sepupunya sudah berkesempatan menonton film Laskar Pelangi di hari kedua penayangan film ini. Meski kami sudah berusaha untuk menonton di hari pertama tapi kami tidak kebagian tiket dan baru setelah antri 1 jam di depan loket 21 Bintaro baru kami bisa nonton di pemutaran kedua jam 15.00.

Meski aku sudah mendengar mengenai Laskar Pelangi cukup lama tapi tidak begitu tertarik untuk membaca bukunya. Aku tertarik menonton film ini setelah sempat menonton diskusi mengenai Laskar Pelangi di Kick Andy Metro TV dan langsung “kepincut” untuk menonton.

Cerita film ini sungguh sangat kuat mesti dibuat dalam setting yang sederhana dengan latar belakang sebuah sekolah di sebuah kampung kecil Gentong di daerah Belitung atau Belitong sebutannya di dalam film ini. Dalam salah satu scene yang aku sempat menangkap ada tulisan 1974 jadi aku langsung manyambung bahwa ini adalah angkatan “gue” nih.
Film menceritakan perjuangan sebuah SD Muhammadiyah satu-satunya sekolah Islam di Blitong saat itu dalam kondisi yang serba memprihatinkan. Bangunan sekolahnya terbuat dari dinding papan asalan yang sudah miring, lantainya tanah, atapnya compang-camping dan bocor jika hujan turun dan ruang yang tidak kena air tempat kambing-kambing berteduh. Muridnya hanya 10 orang yang terdiri dari anak-anak nelayan miskin. Gurunya adalah guru biasa namun berdedikasi sangat luar biasa untuk kemajuan muridnya. Setiap hari adalah perjuangan bagi semua mereka. Guru berjuang mencari murid agar jumlah 10 orang tidak berkurang supaya sekolahnya tidak ditutup oleh pejabat PDK. Murid berjuang untuk memilih bersekolah atau ke laut dan ke tambang timah mengikuti ajakan orang tua mencari nafkah. Pakaian mereka sungguh sangat sederhana, baju compang-camping (jangan berfikir ada seragamnya), tidak pakai sandal wajah kumal dan dekil. Bagi aku itulah benar-benar adalah potret diri ku sendiri, meski aku menikmati proses pendidikan berjarak sekitar 1000 km dari Blitong, tapi kondisinya tak jauh berbeda.

Pada 15 menit pertama anda mungkin belum melihat kekuatan film ini, karena penonton baru diperkenalkan dengan latar belakang cerita. Selanjutnya cerita berkembang dan di setiap episodenya selalu ada segmen-segmen yang membuat anda tertawa geli atau tertawa getir. Di segmen yang lain anda dibuat menangis tersedu-sedu melihat perjuangan “civitas akademika’ guru dan murid di dalam memperjuangkan keberadaan sekolah ini. Karatker murid-murid yang begitu kuat tapi lugu menjadi daya tarik dari cerita itu. Sampai saat ini aku masih merasakan air mata ku menggenang ketika membayangkan bagaimana nasib si Lintang anak yang cerdanya luar biasa itu terpaksa harus berhenti sekolah karena ayahnya mati di telan laut sementera ibunya sudah lebih dahulu meninggal. Selanjutnya hanya Lintang yang akan mengurus ketiga orang adiknya…. Aduh…

Film ini di buat berdasarkan novel terlaris yang dikarang oleh Andreas Hirata yang merupakan potret dirinya sendiri. Yang membuat film menjadi hebat adalah para team yang berada di balik layarnya. Mereka adalah orang-orang film kawakan dan berpengalaman. Dari sekian nama besar di balik film ini aku kenal baik dengan penulis skenarionya Salman Aristo. Dari tangannya jualah sekenario film Ayat-Ayat Cinta film tersukses di negeri ini di buat dan beberapa film layar lebar lainnya. Aris… another great job man!

Selamat menonton.

Jurangmangu 28 September 2008
Taufik Arifin